Kemudian keputusan itu jatuh pada pulang ke rumah. Tepat, selepas lulus kuliah aku langsung angkat koper pergi ke tanah kelahiran. Tak terfikirkan mau apa sesampai di rumah.
Disini saat ini Aku diberi amanah untuk mengajar pada sekolah alternatif Qoryah Thoyyibah dan mengurus lumbung sumber daya pada lembaga yang sama. kurasakan saat-saat awal paska aku tinggal di rumah merupakan sebuah momen yang menyenangkan. Cukup bergolak dan menantang.
Sebaliknya, setelah hampir 1,5 tahun aku disini dengan segala aktivitasku. Hari-hariku kurasakan garing. Meski keinginan untuk melakukan inovasi-inovasi selalu ada. Tapi aku seperti kesepian dan merasa malas dengan segala rutinitas.
Aku ingin merubah komunitasku menjadi sebuah kampung yang nyaman untuk di hidupi. Menghidupkan dinamika ekonomi desa melalui pemerataan pendapatan. Melalui menghidupkan kembali alat-alat produksi yang telah kami miliki.
Dan sebenarnya kemungkinan untuk melakukan hal-hal tersebut bukan hal yang sulit. Aku bisa mengakses segala hal yang aku butuhkan. Secara sosial, ekonomi dan sosial hal itu mungkin dengan posisiku yang seperti ini.
Jika dulu di surabaya aku terlibat pada organisasi pergerakan. kini aku benar-benar telah melakukan praxis, menyentuh petani pada aras nyata. menemani mereka, mengobrol, dan bahkan menjadi petani.
Jika di universitas kita di hadapkan pada kerasnya birokrasi kampus. Di sini aku di hadapkan pada kejamnya modal para borjuis di pasar, tengkulak, birokrasi kabupaten, borok-borok birokrasi pemkot dan segala fenomena sosial masyarakat, seperti kemiskinan, pelacuran, kenakalan, pengangguran.
Mere-evaluasi dan merenungi kembali segala kegiatanku di sini. Berharap langkah ke depan gerak ke depan lebih terjaga dan selaras landas pikir. Barangkali dari situ akan kutemukan kembali nyala diri yang bernama, "Semangat".
Share
Disini saat ini Aku diberi amanah untuk mengajar pada sekolah alternatif Qoryah Thoyyibah dan mengurus lumbung sumber daya pada lembaga yang sama. kurasakan saat-saat awal paska aku tinggal di rumah merupakan sebuah momen yang menyenangkan. Cukup bergolak dan menantang.
Sebaliknya, setelah hampir 1,5 tahun aku disini dengan segala aktivitasku. Hari-hariku kurasakan garing. Meski keinginan untuk melakukan inovasi-inovasi selalu ada. Tapi aku seperti kesepian dan merasa malas dengan segala rutinitas.
Aku ingin merubah komunitasku menjadi sebuah kampung yang nyaman untuk di hidupi. Menghidupkan dinamika ekonomi desa melalui pemerataan pendapatan. Melalui menghidupkan kembali alat-alat produksi yang telah kami miliki.
Dan sebenarnya kemungkinan untuk melakukan hal-hal tersebut bukan hal yang sulit. Aku bisa mengakses segala hal yang aku butuhkan. Secara sosial, ekonomi dan sosial hal itu mungkin dengan posisiku yang seperti ini.
Jika dulu di surabaya aku terlibat pada organisasi pergerakan. kini aku benar-benar telah melakukan praxis, menyentuh petani pada aras nyata. menemani mereka, mengobrol, dan bahkan menjadi petani.
Jika di universitas kita di hadapkan pada kerasnya birokrasi kampus. Di sini aku di hadapkan pada kejamnya modal para borjuis di pasar, tengkulak, birokrasi kabupaten, borok-borok birokrasi pemkot dan segala fenomena sosial masyarakat, seperti kemiskinan, pelacuran, kenakalan, pengangguran.
Mere-evaluasi dan merenungi kembali segala kegiatanku di sini. Berharap langkah ke depan gerak ke depan lebih terjaga dan selaras landas pikir. Barangkali dari situ akan kutemukan kembali nyala diri yang bernama, "Semangat".

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Thank's a lot