Philosophy and
Cultural Studies
Orang membunuh ayam, mencabut rumput atau meneplok nyamuk bisa di sebut tindakan membunuh. Toleransi terhadap tindakan membunuh satwa maupun makhluk lain di luar manusia, secara umum masih bisa di tolerir karena yang di cari pendapat adalah manusia. Beda kasus kalau yang di bunuh adalah manusia. sekali ada yang terbunuh, reaksi pasti muncul berbentuk kegemparan, dan pengecaman.
Padahal pohon, rumput, daun, semut, nyamuk punya kehidupan seperti halnya manusia. Kalau sekawanan hewan atau tumbuhan bisa berkata dan berkomentar tentang pemberangusan kawanan pohon dan hewan yang notabene kumpulannya, barangkali komentarnya pun sama. Jangan bunuh kami, dan biarkan kami tetap hidup.
Atas kejengahan dan kesombongan, manusia memonopoli kekuasaannya atas bumi. atas nama kebenaran mereka bebas memakan dan mengambil apa saja yang menjadi kehendaknya atas yang lain. efeknya, alam punya hukum kemarahannya, dalam bentuk angin kencang, tsunami dan berbagai bencana alam tak terperi.
Dari sedikit tinjauan atas pembunuhan secara umum kita kerucutkan fokus ke pembunuhan manusia atas manusia
Pembunuhan manusia atas manusia lain mengusik nurani dan perasaan cinta yang hadir inheren dalam setiap diri seorang atas yang lain. Inilah perasaan solidaritas. Ia hadir tanpa bungkus dan permisi, tiba-tiba hadir dan memenuhi dada, hati. rasa yang berbentuk perasaan kasihan, sayang dan cinta tatkala kita melihak kesedihan, tangis, dan darah.
Pembunuhan adlah cinta yang salah, cinta yang sebenarnya suci namun di tempatkan pada konteks yang salah. salah karena rasio ditekan jauh ke labirin jauh. segerombolan kerumunan dan kelompok masa yang menggeruduk dan siap memberangus yang lain. pelaku pembunuhan telah larut dalam bidang, bidang tak jelas. mereka hanya bisa memukul, bacok tanpa tahu landasan legalisasi tindakan membunuhnya. kalau toh ada argumen, itu sangat dangkal dan terkesan di buat-buat.
Perbedaan dan persamaan bisa hidup dalam bingkai pluralitas. syaratnya, fanatisme jangan diumbar. kalau itu di umbar, kita bisa hilang dan jatuh dalam doktrin yang bermuatan kepentingan. sebab fanatisme mengidealkan penggemarnya sebagai budak yang cuma turut-menurut. benar saja, perbedaan itu lebih absolut dari pada nilai ideologi dan dogma yang gampng sekali di belokkan.
Koletivitas yang memahami perbedaan akan melahirkan cinta. Kolektivitas masyarakat yang abai terhadap perbedaan akan melahirkan kelompok-kelompok fanatis. Kebencian harus segera di lenyapkan dengan menumbuhkan cinta. menjalin hubungan-hubungan serasa. saling mengaca dan merefleksi tindakan. bahwa kita bisa saling berbagi damai.
Kesimpulan
Setiap aku adalah adalah aku yang otentik terus merubah diri. terus berproses menemukan kesejatianku. bahkan dalam satu keluarga kita pasti berbeda. aku, kamu, mereka, kalian adalah sebutan untuk menyatakan bahwa identitas masing-masing itu ada dan niscaya.
Pernikahan menjadi bangunan saling pengertian antar dua orang. Saling mengikat diri dalam rukun. atau seperti siang dan malam yang menyatu dalam hari-hari kita. apa yang akan terjadi kalau kita kehilangan malam tanpa siang?
Pola Fikir
Argumen pembunuhan adalah argumen diri yang dibangun di atas landasan penolakan keberagaman. Seorang pembunuh adalah seorang anak ngeyel yang bandel, seperti selalu ingin benar sendiri. pembunuhan manusia atas manusia berarti penghilangan suatu entitas yang bernama nyawa yang lain. yang jika sudah diambil, ia tak akan kembali.
Coba cermati ini
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Thank's a lot