Rabu, 01 Juli 2009

Eksistensialisme kritis vs irasionalitas-mitos


Saya lebih setuju beberapa pandangan yang menempatkan manusia sebagai penguasa (eksistensialisme) perihal kehidupan ini. ada Kierkegaard, J.P. Sartre dan F. Nietszhe, yang terakhri ini adalah idola sekaligus pemikir favorit saya yang berada dalam garda terdepan bagi penemuan kembali kemanusiaan. jalan fikirannya saya belum begitu dekat membaca dan memahami, namun dari ungkapannya yang fenomenal bahwa "tuhan telah mati" saya menangkap pesan, manusia itu harus dihormati. tuhan berarti barang yang absurd dan non-inderawi sementara kematian berarti hilang dari alam realitas.
seperti melintas dalam jalur yang abadi, sejarah pemikiran manusia merupakan sebuah momen sama yang dipirkan oleh setiap orang di setiap zaman. tidak ada bedanya antara masa Nietszhe dan sekarang, karena semua memikirkan mitos. dan Nietszhe telah berusaha memudarkan selubung mitos tersebut.
hidup dalam kebudayaan yang irasional itulah sasaran serangan pemikiran eksistensialisme. irasionalitas selalu menempatkan individu manusia dalam posisi kalah dengan lingkungan dan barang material lain. takhayul, do'a dan segala puja-puji tentang sejarah dan cerita yang dimitoskan selalu mewarnai kehidupan kaum irasional.
Kiranya batas, dimana eksistensialisme ini meretas jalan dimulai manakala ada pembelengguan berfikir, dimanapun, kapanpun filsafat Nietszhe harus digaungkan. keberpihakan kita menjadi seorang manusia harus dipuji dalam eksistensinya dengan alam sekitar. tidak mungkin lagi kita akan terus termarginaisasi dalam realitas yang menindas.
dalam perkembangannya kehidupan manusia seakan menjadi sesuatu yang sudah taken from granted, bahwa realitas sudah seperti itu. bahwa, kita harus narimo ing pandum. kalo jawaban berbau mitos seperti itu yang keluar maka segala hal akan stagnan dan berhenti, resikonya akan menguntungkan status quo. selubung politis kepentingan status Quo ini seakan hilang. padahal senyatanya kepentingan melanggengkan penindasan inilah yang berusaha ingin di jawab oleh kaum eksistensialis yang kritis.
kesimpulan dari analisis diatas, dalam refleksi atas permasalahan kita selama ini adalah persoalan kultural yang menyangkut adat, budaya dan produknya yang harus di bedah. bukan untuk kepentingan status Quo, tapi sebagai sebuah bentuk penghargaan atas kemanusiaan kita. dalam satu kata terakhir, mencoba menjadi manusia harus bisa menjadi seorang yang eksist-kritis.
kos2an Sbya
BoyanK
Share

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Thank's a lot