Kamis, 07 Mei 2009

Ritualitas Demokrasi

seperti bayi yang baru lahir, masih ada jalan panajng bagi prospek demokrasi kita. sebagai sebuah negara yang lepas dari belenggu otoritarianisme negara, butuh waktu yang panajng untuk memperbaiki kinerja demokratisasi. kita sedang belajr mengadopsi dari barat. belajar mencari format demokrasi yang tepat. mengingat demkrasi juga bukan sistem politik yang baku, ada variasi liberal, sosialis, dan konstitusional.
seringkali ide dan gagasan demokrasi menjadi salah, yakni mankala dibenturkan dengan hal-hal yang bersifat formal dan ritualitas saja. bukan hanya kita hampir di tiap negara dunia ketiga. demokrasi seringkali disalahgunakan dan disalahartikan sebagai proses pembelajaran semata. efeknya seringkali demokrasi malah menjadi instrumen kepentingan sebagian kelompok yang sengaja membonceng.
jika dilihat dari analisa historis, sebenrnya demokrasi merupakan nilai yang lebih baik dan teruji disepakati oleh kebanyakan negara. terbukti ketika dibandingkan dengan sisitem politik yang monarkis, otoritarian, sosialis-komunis, demokrasi masih terlalu tangguh. kekebalannya terbukti mampu menghindari anarkhisme dan apatisme politik warga negara.
dengan menekankan partisipasi dari warga negara, dengan keterjaminan kebebasan dan keberadaannya setiap warga negara dimanjakan akan hak-hak politiknya. inilah konsep masyarakata sipil, yakni komunitas yang mampu menerapkan tingkah laku yang bertanggung jawab dan beradab.
azas-azas demokrasi, mengandung entitas, nilai pengakuan HAM, penegakan hukum, humanisme dan nilai-nilai luhur lainnya. azas ini telah jauh meninggalkan pandangan yang picik dan sesat yang selama ini dianut oleh sistem yang cenderung eksklusif dan patikular. demokrasi mengajak kita semua melepas nilai-nilai sempit primordial, konservatisme dan tradisionalisme yang begitu terbatas.
disinilah pentingnya gerakan penyadaran akan arti pentingya pengetahuan tentang HAM, humanisme, demkrasi dll. yakni diharapkan semakin tersadarnya warga negara dalam keterlibatan politik mencapai kepentinagn bersama, sebagai individu dan sebagai manusia.
seringkali kita membedakan antara instrumen dan esensi, seakan-akan dua hal tadi memang terpisah. diadakannya pemilu tanpa kebebasan memilih, tanpa sosialisasi dan hanya menjadi mekanisme transisi yang semu(quasi). kebebasan hidup yang ditabrakkan dengan kewajiban membela negara, atau kebebasan meraih pendidikan dan kesejahteraan tanpa akses yang mudah dan murah akan pendidikan. disinilah demokrasi akan mengalami kemacetan disinilah demokrasi buntu. yakni manakala demokrasi seringkali ditempelkan sebagai sebuah ritualitas yang menyembunyikan esensi.
tujuan diadakannya pemerintahan yang demokratis secara politis untuk menghindarkan politisasi rakyat. porsi keterlibatan rakyat dalam politik adalah tuhan dari pemerintahan. disinilah demokrasi menjadi etika yang harus diperjuangkan, yakni sewaktu rakyat benar-benar mau dan mampu berpartisipasi secara sadar dalam keterlibatan bernegara tanpa paksaan dan kekerasan.
salam ...perjuangan..!

Share

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Thank's a lot