Oleh: Arif Burhan
Perasaan ini takkan menjauhkan hati ini dari sang cinta. Apa yang kurasakan ini, takkan menghalau cinta dari kebenaran.
“Oh, Cinta kepada siapa aku memuja, bidadari puteri Tuhan itu, telah mengangkat hatiku pada tempat berbeda yang begitu jauh. Kau disana-aku disini. Tempat jauh tak terengkuh di istana Tuhan, tempat itulah, yang mengantarkanku pada kemolekan seorang bidadari yang dilindungi pagar-pagar istana, sekaligus berfungsi menjaga kehormatan sang bidadari..”
“Wahai, Tuhan kenapa harus kau tunjukkan jalan cinta yang tak mungkin kumiliki? Sementara aku terus menerus menahan terjangan nafsu keinginan dan hasrat hina dalam diriku. Biarlah kunikmati keinginanmu atas jasmaniku ini, menikmati kegembiraan dipadang rumput ini, tenteram dalam bayangan sayap-sayapmu…”
“Lihatlah diriku sendirian dalam cintaku. Tercerai dari keinginan, hasrat dan nafsuku. Dan bidadari itu kurasa juga tak begitu menghendaki diriku….seperti aku mencintainya”.
Aku paham bahwa Tuhan memiliki rahasia yang tak terpahami oleh manusia. Tuhan memiliki kawasan luas untuk memandu jiwa manusia. Bukankah, cinta tak berpegang pada hukum keduniaan yang dicipta dan direkayasa manusia? Melainkan ia menghuni
“Datanglah wahai kematian, bebaskan diriku dari dunia yang banyak membual dan hasrat nafsuku yang meronta memapahku menuju kegelapan dosa.”
“Datanglah kematian, selamatkanlah cinta suci ini yang terancam terenggut oleh kuasa duniawi. Merdekakan aku wahai kematian! Karena keabadian lebih manis daripada dunia, surga sebagai tempat bercumbu para kekasih.”
Pada saat itu malaikat kematian datang menghampiriku bersama bidadari cintaku. Sang bidadari itu dengan tergesa merengkuh tubuhku dan menyelimuti kesendirianku dengan jubah kasih. Bidadari cintaku dengan lembut mencium bibirku dan berkata dengan suara jernih
“aku datang secara sembunyi, sebelumnya telah lama kulihat kau dimimpiku, kekasihku. Kulihat matamu yang dipenuhi cahaya cinta untukku. Tenanglah, karena engkau kini telah dipelukku, mari bersama kita mereguk anggur kehidupan dan kematian bersama-sama kekasihku”.
“Berdirilah sayangku mari beranjak pergi dari dunia sempit umat manusia, menuju kematian abadi!”
Disamping kami berdua, malaikat kematian dengan pandangan mata nanar, telah bersiap mengantarkan ruh kami ke alam keabadian:
“Keikhlasan Cinta telah menyatukan kami berdua; lalu siapakah yang akan memisahkan kami? Kematian telah merenggut kami, siapakah yang akan membawa kami kembali?”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Thank's a lot