Rabu, 29 April 2009

Habis gelap terbitlah terang

sebuah memoar lama tentang perjalanan dan pengharapan seorang pahlawan bangsa, R.A Kartini. seorang perempuan pejuang pembebasan gender dari konstruksi sosial buatan feodalisme Jawa.
ia terlahir sebagai seorang ningrat, yakni anak dari seorang selir bupati Jepara. namun dibalik segala privilege yang mungkin terjangkkau buatnya sebagai seorang priyayi saat itu, kekritisannya membimbingya untuk memberontak. meski hanya sebatas tulisan yang ia kirmkan kepada teman-temannya atau menulis dalam buku.
tiap kata-kata yang ia tulis merupakan sebuah hasil kegelisahan atas kondisi ketertindasan nasib perempuan pada masanya. dimana tubuh perempuan hanya dimaknai sebgai sebuah harga dimana pembatasan atas makna diri menjadi hilang dan kabur.
apa yang bisa didapatkan dari seorang yang bertitel Raden Ajeng selain pangkat suami yang akan memingitnya untuk menjadi selir. bahkan, ia merasa tersiksa dengan kelahirannya sebagai seorang Raden Ayu, ia lebih memilih dilahirkan sebagai seorang petani yang lebih bebas, dimana posisi perempuan dan lelaki relatif lebih setara.
konstruksi sosial yang masih menyudutkan perempuan meruakan hasil dari berlakunya ideologi patriarkhis yng berlaku luas dimasyarakat. perempuan ditakdirkan menjadi kuasa lelaki, ia tidak memiliki otonomi individuil dihadapan lelaki.
melihat apa yang dialami Kartini di amsa akhir 1890-an diana budaya feodalisme sangat timpang memosisikan gender, kiranya waktu kini pun masih relevan. masih sangat sulit bagi seorang perempuan Jawa untuk keluar rumah untuk berkaris dan megakses ruang publik dengan proporsi yang sama. mereka malah makin tersiksa karena hasil dari involusi pertanian benar-benar menjadikannya barang kosong tnpa makna. Share

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Thank's a lot