Senin, 20 April 2009

Kupaksa Melangkah

Akhir-akhir ini suasana jalan begitu sepi, perbaikan jalan membuat jalur ini terpaksa dialihkan. Banyak teman yang terpaksa berpindah tempat nongkrong, paling tidak lewat pembicaraan itulah aku bisa melepaskan sedikit kegelisahan yang berkecamuk dalam fikiran. Sekarang yang berada di warung ini hanya penjual kopi, Desi dan aku sendiri Yuli. Desi dan aku adalah saudara dan teman penjaga warung, Supardi. Di sini hampir semua penjaga warung kopi akan memperoleh titel Cak, sehingga Supardi-pun akrab di sapa Cak Di.
Berdua seperti biasa kami berjaga di luar menantang setiap mata lelaki yang lewat, dan memainkan kata-kata manis. Yah kami wanita pekerja, yang mencari uang di pinggir jalan. Ada yang bilang kami wanita jalang, murahan, tuna susila atau PSK, buat kami permasalahan itu hanya slentingan-slentingan yang timbul karena kami dianggap telah mengganggu keharmonisan rumah tangga, atau kami ‘menjual tubuh’. Bagiku sendiri mungkin juga Desi apakah PSK,WTS atau lainnya, adalah anggapan orang lain sementara bagiku tuntutan bekerja semata untuk anakku, untuk uang sekolah, uang memasak tiap hari.
“Yul, ko’ tumben bawa jaket tebal? Biasanya mana tank-top yang biru? Kurang extra-vaganza” sapa Desi yang malam itu trlihat cukup putih mukanya. Maklum tadi, aku baru saja mengantarkannya membeli bedak baru di toko kecantikan.
“masak si Des, Jaket Merah ini kurang mencolok? Yah biar lampu warung ini remang dan tak tampak mencolok warna pakaianku, aku yakin mata lelaki tak lewat memperhatikanku?” jawabku memprtahankan diri.
“Ya, yang melihat seorang masuk angin karena jaket mu terlampau tebal mirip orang gunung. Tapi memang malam ini terasa dingin dan tentu saja sepi terutama 3 hari terakhir, jalan itu harusnya sudah jadi, dibuka kemarin”, tambah yuli mencoba membenarkan tindakanku.
“ya, paling tidak itu salah satu perimbanganku selain aku juga agak tak enak badan. mereka para pembuat jalan memang brengsek! Tidak tahu ada yang mencari makan juga disini”.
“sabar dan pasrah ja deh Yul,do’a moga aja nanti ada Tuan-tuan pake mobil mewah, booking kita berdua bareng, jadi besok kita libur dulu”
“kamu ngimpi Des, mana ada sejarah yang pake mobil mewah booking kita. Yang pake mobil tuh, harus serba steril, gak penyakitan kaya kamu”
“kamu, Yul dalem banget nyindirnya. Yah, kitakan Cuma kerjanya ngarepin mimpi kaya gitu’kan?”
****
Subuh, aku pulang. Kucuri pandang tengok kelangit, rembulan sabit dan bintang seperti pecahan permata di atas taplak biru, bukan, bukan permata, lebih tepatnya pecahan kaca bagiku. Kumencoba merasakan pegal-pegal di beberapa bagian tubuh, aku akan tidur dan merebahkan tubuhku sesampainya nanti dirumah. Hari ini telah sebegitu lama aku bosan menunggu tamu di pangkalan, meski lega juga akhirnya dapat tamu seorang langgananku yang tidak terlihat sejak perbaikan jalan. Dua jam 50ribu itu standardku buat langganan, bagikupun sudah cukup paling tidak untuk menutup makan dan uang Jajan anakku Tegar, besok. Bahkan, ada sisa sedikit yang bisa kupergunakan tambahan uang tabungan yang sengaja kusisihkan. Dari depan rumah terlihat sinar lampu kamar Tegar masih terang, kubuka pintu kunci pelan.
“ibu ini minum dulu? Tegar sudah tunggu Ibu dari tadi, ada surprise dari tegar buat Ibu” celoteh anak itu, dengan sedikit menggoyang kepalanya, menggemaskan. Tegar memang seorang pendiam, tapi untuk hal-hal tertentu ia bahkan tampak terlalu cerewet. Seperti sekarang
“ehm… ibu boleh tebak?” tawarku
“yak, apa coba?” tantangnya
“paling soal nilai kamu, yang…” belum selesai kuteruskan
“he…, hampir betul tapi masil kurang tepat”
“apa sih sayang jangan kelamaan, ibu jadi penasaran” bujukku, aku sudah terlalu gemas melihat caranya membuatku sedikit hilang kesabaran.
“ok! Kemarin dah cerita’kan Tegar ikutan lomba murid teladan mewakili sekolah di kecamatan, tadi bu guru pas upacara ngumumin kalo hasilnya Tegar Juara I” lancar anak kecil berpipi lesung pipit itu menjelaskan.
“oh, yah.. wah kamu memang jagoan Ibu” sambil ku genggam kedua bahunya
“enggak Cuma itu Bu, tadi Bu kepala sekolah juga ngomong katanya setengah bulan lagi Tegar ikut lomba ke kabupaten” ucapnya polos
“oh, yah. Yah syukurlah kalo begitu, kamu mesti banyak bersyukur sama Tuhan atas kasihnyalah ini semua” kataku mencoba menjelaskan.
“baik bu tegar akan terus berdoa’a tiap malam, atas kebaikan tuhan pada tegar, tegar janji akan berusaha sungguh-sungguh dalam lomba nanti” tegasnya.
“sudah terusin tidur kamu, besok harus sekolah lagi jangan sampai kesiangan”
****
Hari ini menjadi hari tak terlupakan bagi anakku Tegar berhasil meraih juara dalam lomba ditingkat Kabupaten. Sebagai orang-tua tunggalnya, ada perasaan kepuasan atas prestasinya. Bagiku tanpa seorang suami bukan berarti kemampuan mendidik anak terbengkalai. Tegar bagiku perhiasan hidup yang harus kupertahankan agar jangan sampai lusuh dan hilang keindahannya.
“Bu Yuli, selamat yah, sebagai guru saya bangga mempunyai murid cerdas seperti Tegar ini. Selain pemberani Tegar sangat cerdas hal ini tak terlepas dari usaha ibu yang sangat memperhatikan anaknya”. Tutur Pak Sanusi seorang guru pembimbing Tegar.
“ah, bapak terlalu melebihkan. Justru saya yang harus berterima kasih, tanpa pak sanusi mungkin tegar tidak mungkin sampai seperti ini”. Ungkapku merendah
“maaf Bu Yuli sebelumnya, dari tadi ayah Tegar ko’ tidak kelihatan?”.
“kebetulan kami sudah berpisah sejak tegar berumur tiga tahun, kami bercerai”.
“oh, maaf sekali lagi atas pertanyaan saya yang keterlaluan tersebut”.
“enggak apa-apa pak guru, saya dapat memahami ko’”
Dan obrolan kamipun berakhir, kusaksikan Tegar berada di podium mengangkat piala. Tak terasa air mata telah jatuh menetes, sebuah keharuan disertai kebanggaan. Ada sedikit perasaan sepi dan kasihan bahkan, disaat seperti ini anakku hanya sendiri tanpa ayah.
**** Share

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Thank's a lot