Selasa, 23 Maret 2010

Consume and happier....


Philosophy and
Cultural Studies
Telah datang masa kelimpahruahan. Waktu senja malam-malam, tatkala modernitas menepati janji dengan lompatan-lompatan pembangunan. Bangunan-bangunan megah dan lampu-lampu yang berkilauan seperti pesulap yang datang tiba-tiba.
Sayang kelimpahruahan tadi semu dan ilutif. Dibeberapa sudut peradaban, modernitas telah berefek sistemik. Bangunan mewah justru menyimpan luka kemiskinan bagi sebagian besar penduduk. Inikah keadilan? Kita tidak menginginkan sama-rata atau sama-rasa sperti yang di lamunkan karl Marx sejak 1884 lalu. Keadilan bagi orang-orang kecil hanya butuh bisa beli makan aja ko'...
Inikah zaman yang dinantikan gerombolan  modernis itu. Senyatanya situasi ketimpangan ini justru adalah kutukan. Cobalah kalian datang dan berkunjung melihat sekitar dan melihat perubahan-perubahan yang terjadi. apa yang dihadirkan dari wajah modernitas? hanya bopeng-bopeng muka dan kurap ketimpangan sosial.
Kapitalime telah membungkus narasi-narasi penghisapan terhadap para buruh dan petani dalam novel industrialisasi. Kita telah kehilangan kehidupan yang benar-benar nyaman untuk menjawab harapan kebahagiaan yang dicita-citakan Thomas Hobbes (pursuit of Happiness).
Mereka yang materialis tak pernah menganggap tuhan sebagai sebuah kekuatan yang ada dan mengada. Kita telah menganggap batu-batu dan mesin tekhnologis sebagai ada yang sjati menggantikan tuhan. Jika saja aku jadi tuhan? aku akan bingung untuk menjawab karena seringkali tuhan itu impersonal ia imanen.
Mari jatuhkan pilihan pada alam yang hidup sebagai sebuah tubuh yang mengatur sendiri kehidupannya. ia dapa lahir besar dan mati. Dan inilah saat-saat yang benar-benar akut untuk mengatakan, "alam telah marah dengan wajah memerah".
Eksploitasi tanpa batas dan penggundulan hutan demi keuntungan tuan-tuan bertubuh bongsor. Apakah Uang yang didewakan telah seharga emas-emas dan kekayaan sumberdaya alam yang tersedia?

 
Share

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Thank's a lot