Budaya jawa dalam pandangan Wahib (pergolakan Pemikiran Islam: 1971) tergolong pada comlex culture. maksudnya budaya Jawa sudah sedemikian mendarah daging merasuk dalam segenap kehidupan mnusia Jawa. Saya juga menangkap maksud Wahib dari penggolongan itu yakni, Budaya ini telah sedemikian mapan sehingga sulit sekali untuk dirubah.
Merunut sejenak ke masa silam, dari manakah Budaya ini? Budaya jawa hadir dan berkembang seiring dengan waktu masuk dan berkembangnya kebuyadayaan lain. Seperti pengaruh Hindhuisme, Budhha, Islam, Kristen dengan budaya-budaya Jawa.
Dalam beberapa hal kita tahu manusia jawa merupakan orang-orang yang tergolong kreatif. semisal Batik, Wayang atau tari-tarian. lepas dari semua itu kontradiksi yang seharusnya tak layakpun juga tak kalah banyak. semisal kpercayaan kepada Takhayyul, sistem pengkastaan dll.
Saya ingin mengajak anda berfikir dan merenungkan masa lalu, berharap mendapatkan remah-remah sebagai bahan perbaikan kehidupan bermasyarakat dimasa mendatang (strategi kebudayaan). Saya pandang ini penting sebab Jawa dihadapkan pada perubahan-perubahan sosial yang jauh lebih menantang seperti globalisasi ekonomi yang membawa konsekuensi sangat luas di masyarakat.
Kita hidup di zaman merdeka, namun pola pikir kita masih terjajah. modernisasi yang mengarah pada konsumerisme gaya hidup. Efek terjauh adalah hilangnya generasi (lost generation). tidak ada lagi manusia Jawa yang mampu menyepi sendiri di samudera luas peradaban modern, bahkan hampir semua hilang bersama kesemrawutan uang dan komoditisasi jati diri (self commoditization). Seharusnya kita miris ketika melihat Kraton yang terpaksa harus cari duit lewat menjual keanekaragaman sumberdaya yang belum tergali malah di eksploitasi luar.
Saya yakin kalau kita iku arus zaman Jawa akan hilang kenapa? karena eksotisme itu sudah dibanderol dengan harga-harga dunia.
Saya memahami jawa sebagai nilai, sebagai hasrat terpendam yang tak akan pernah habis digali kebajikannya walaupun hidup pas-pasan. kenapa? nilai bersifat abadi sementara keduniaan itu sementara. bahkan kalau boleh ditelisik semua nilai keduniaan itu hanya ilusi indra kita atas bentuk dan warna.
Jawa Tanpa Kraton
Hidup pada saat ini, tak ada lagi pemandu selain diri. Tak perlu belajar karena disini saja, kita bisa tahu segala hal. Internet dan mencarai sumber yang tepat kita sudah bida mengarahkan pemikiran kita kepada suatu ide yang dianggap tepat. Namun bukan sekedar adopsi kita akan menemukan kejawaan dalam realitas yang nampak. melakukan integrasi gagasan ide dalam bentuk yang secara original khas kita.
Apapun kesalahan logika toh kita telah berusaha, bersusah payah menemukan kebenaran ala kita. manusia Jawa harus menjadi manusia yang matang secara intelektualitas bukan sekedar produk tradisionalisme masa lalu atau ngepop western. Integrasi pemikiran Ronggowarsito dengan Karl Marx, atau Sudjatmoko dengan Habermas. semua sah saja dalam era ini. kita akan hidup menjadi avantgarde yang terbebaskan.
Penutup
Jika Jenar pernah melakukan integrasi antara manusia dengan tuhan, kita harus jauh melampaui pemikirannya. Memperkenalkan Sartre atau Nieszhe kedalam panggung pemikiran Khas Jawa.
Merunut sejenak ke masa silam, dari manakah Budaya ini? Budaya jawa hadir dan berkembang seiring dengan waktu masuk dan berkembangnya kebuyadayaan lain. Seperti pengaruh Hindhuisme, Budhha, Islam, Kristen dengan budaya-budaya Jawa.
Dalam beberapa hal kita tahu manusia jawa merupakan orang-orang yang tergolong kreatif. semisal Batik, Wayang atau tari-tarian. lepas dari semua itu kontradiksi yang seharusnya tak layakpun juga tak kalah banyak. semisal kpercayaan kepada Takhayyul, sistem pengkastaan dll.
Saya ingin mengajak anda berfikir dan merenungkan masa lalu, berharap mendapatkan remah-remah sebagai bahan perbaikan kehidupan bermasyarakat dimasa mendatang (strategi kebudayaan). Saya pandang ini penting sebab Jawa dihadapkan pada perubahan-perubahan sosial yang jauh lebih menantang seperti globalisasi ekonomi yang membawa konsekuensi sangat luas di masyarakat.
Kita hidup di zaman merdeka, namun pola pikir kita masih terjajah. modernisasi yang mengarah pada konsumerisme gaya hidup. Efek terjauh adalah hilangnya generasi (lost generation). tidak ada lagi manusia Jawa yang mampu menyepi sendiri di samudera luas peradaban modern, bahkan hampir semua hilang bersama kesemrawutan uang dan komoditisasi jati diri (self commoditization). Seharusnya kita miris ketika melihat Kraton yang terpaksa harus cari duit lewat menjual keanekaragaman sumberdaya yang belum tergali malah di eksploitasi luar.
Saya yakin kalau kita iku arus zaman Jawa akan hilang kenapa? karena eksotisme itu sudah dibanderol dengan harga-harga dunia.
Saya memahami jawa sebagai nilai, sebagai hasrat terpendam yang tak akan pernah habis digali kebajikannya walaupun hidup pas-pasan. kenapa? nilai bersifat abadi sementara keduniaan itu sementara. bahkan kalau boleh ditelisik semua nilai keduniaan itu hanya ilusi indra kita atas bentuk dan warna.
Jawa Tanpa Kraton
Hidup pada saat ini, tak ada lagi pemandu selain diri. Tak perlu belajar karena disini saja, kita bisa tahu segala hal. Internet dan mencarai sumber yang tepat kita sudah bida mengarahkan pemikiran kita kepada suatu ide yang dianggap tepat. Namun bukan sekedar adopsi kita akan menemukan kejawaan dalam realitas yang nampak. melakukan integrasi gagasan ide dalam bentuk yang secara original khas kita.
Apapun kesalahan logika toh kita telah berusaha, bersusah payah menemukan kebenaran ala kita. manusia Jawa harus menjadi manusia yang matang secara intelektualitas bukan sekedar produk tradisionalisme masa lalu atau ngepop western. Integrasi pemikiran Ronggowarsito dengan Karl Marx, atau Sudjatmoko dengan Habermas. semua sah saja dalam era ini. kita akan hidup menjadi avantgarde yang terbebaskan.
Penutup
Jika Jenar pernah melakukan integrasi antara manusia dengan tuhan, kita harus jauh melampaui pemikirannya. Memperkenalkan Sartre atau Nieszhe kedalam panggung pemikiran Khas Jawa.
Share