Rabu, 28 September 2011

Kelabu di Sekitar Gestok

Dari orde ke orde, dari yang baru sampai yang paling baru. Genocide terhadap PKI pasca Gestok, turut menyapu ideologi yang beranasir Marxisme dan sosialisme dari bumi Indonesia. Tanpa hak membela, PKI di cap berbahaya dan haram! Tidak diperkenankan mempelajari ideologi ini apalagi diterapkan.

Buku-buku di bakar, orang-orang di Exile'kan. Sementara diam-diam, dalam pada tindakan itu, sejarah telah kita nafikan sendiri. Apa pasal? Sejak Sneevliet, Bergsma, Dekker, Baars, dkk. datang dari Nederland datang memperkenalkan sosialisme ilmiah, dan berlanjut dengan Malaka, Semaun, Alimin, Darsono, dkk. bangsa kita berhutang gagasan dan metode strategi perjuangan -kompromis ke revolusioner progresif.

Dari orang-orang komunislah saat itu kolonialisme imperialisme Hindia Belanda dan feodalisme yang melintah darat di nusantara bisa dikuliti. Bahkan, Repelita yang dibanggakan Soeharto pun adopsi Stalinisme. Banyak lagi, banyak sekali, kalau kita mau jujur mengakui bahwasanya negara besar Indonesia, semakin tak cocok dengan sistem kapitalisma yang menghisap ala Amerika dan antek-anteknya.
13169511331215412187
Kelabu di Sekitar Gestok
Gerakan September 30 atau yang biasa disebut Gestok, merupakan peristiwa sejarah kelam di negeri ini. Gestok yang diawali penculikan dan pembunuhan sejumlah Jendral, dan diakhiri dengan pembubaran PKI dan peristiwa pembantaian anggotanya oleh tentara dan milisi sipil adalah momen sejarah yang mencoreng nurani kebangsaan. Bahwa bagaimanapun situasinya, kekerasan apalagi pembunuhan terhadap orang-seorang atau kelompok tidak dapat dibenarkan baik secara moral kemanusiaan atau hukum.
Gestok Tinjauan Elit-Massa
                Gestok merupakan konspirasi politik elitis yang jauh dari norma demokrasi. Di dalam peristiwa tersebut, pembunuhan dan pembantaian yang melibatkan orang sebangsa-negara dengan dalih latar belakang politik. Bahwa faksi-faksi politik yang berlangsung saat itu, dengan sengaja menciptakan kekisruhan yang akhirnya menciptakan permusuhan diantara sesama massa rakyat.
                Sebagai bangsa yang bermartabat dan bermoral, banyak pelajaran moral yang harus kita petik disini. Sungguh tidak layak kita biarkan dirii digerus arus dengan melupakan tragedi ini. Bahwa peristiwa gestok dalam kacamata rakyat adalah moment menjadikan orang-orang kecil sebagai pion-pion yang dibungkam dan sengaja dimanfaatkan untuk kepentingan suksesi politik, dari satu orde ke orde lain.
                Gestok memandang rakyat dari kacamata golongan-golongan yang siap di adu domba. Rakyat yang sengaja dibagi-bagi dalam ideologi-ideologi dan sekte-sekte yang terpisah. Dan akhirnya, gestok adalah arena dimana masing-masing faksi dalam tubuh rakyat di adu dan di pertemukan untuk mencari siapa yang lebih kuat dan pantas menang.
Kontroversi Tak Berkesudahan
                Gestok senantiasa akan kelabu dan tidak dapat diungkap secara jernih, apalagi kalau kacamata golongan dan ideologi masih kita pergunakan. Gestok senantiasa kelabu, kalau masing-masing pemerhati sejarah, analis politik, maupun korban dan pelaku duduk dan berdiri tak beranjak dari habitus dari mana ia berasal. Dan akhirnya gestok sebagai peristiwa yang obyektif, hanya tersisa sebagai teka-teki yang dipenuhi mission link-mission link ala detektif yang realitasnya sendiri semu dan abu-abu.
Gestok dan pesimisme sejarah
Sebagai sebuah peristiwa politik, gestok berputar-putar dan kontroversial. Ilmuwan poltiik gagal memformulasikan, bagaimana konstelasi politik saat itu berlangsung, sehingga berhasil menyimpulkan siapakah yang secara politik menjadi pelaku gerakan tersebut. Sementara itu, sejarawan sosial,masih kebingungan melakukan penafsiran terhadap fenomena tersebut dan akhirnya menyerahkan pada penarikan kesimpulan bahwa menarik kesimpulan umum dari kompleksitas peristiwa gestok ini, menjadi sesuatu yang mustahil?
Share

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Thank's a lot