Di copy dari: http://militanindonesia.org/teori/sosialisme/8186-mengenal-dasar-dasar-filsafat-marxisme-bagian-i-dialektika-materialisme.html
Oleh: Ted Sprague
Secara historis, filsafat marxisme adalah filsafat perjuangan kelas
buruh untuk menumbangkan kapitalisme dan membawa sosialisme. Sejak
filsafat ini dirumuskan oleh Karl Marx dan Friedrich Engels semenjak
tahun 1840an dan terus berkembang, filsafat ini telah mendominasi
perjuangan buruh secara langsung maupun tidak langsung. Kendati
usaha-usaha para akademisi borjuis untuk menghapus ataupun menelikung
Marxisme, filsafat ini terus hadir di dalam sendi-sendi perjuangan kelas
buruh.
Oleh karenanya filsafat ini adalah miliknya buruh dan bukan hanya
milik kaum intelektual. Marx menuangkan pemikirannya bukan untuk kaum
intelektual dan para filsuf terpelajar, tetapi untuk digunakan kaum
buruh dalam perjuangannya. Dalih bahwa buruh terlalu bodoh untuk bisa
memahami dasar-dasar filsafat Marxisme adalah tidak lain usaha kaum
borjuasi untuk memisahkan buruh dari filsafat perjuangannya. Tidak ada
yang bisa memisahkan buruh dari filsafatnya karena dalam
kesehari-hariannya buruh menghidupi filsafat ini di dalam aktivitasnya
di pabrik. Alhasil, buruhlah yang pada akhirnya mampu merenggut filsafat
ini untuk digunakan dalam perjuangan melawan kapitalisme. Sejarah telah
menunjukkan bahwa pasukan kaum intelektual bersenjatakan Marxisme tidak
pernah mencapai sejauh pasukan kaum buruh dengan senjata yang sama.
Marxisme adalah kata lain untuk sebuah filsafat yang bernama
dialektika materialisme. Dialektika dan materialisme adalah dua filsafat
yang dikembangkan oleh filsuf-filsuf Barat -- dan juga Timur, yang
kemudian disatukan, disintesakan, oleh Marx menjadi dialektika
materialisme.
Untuk memahami pokok-pokok Marxisme, kita bisa memecahkannya menjadi tiga bagian, seperti yang dipaparkan oleh Lenin, yakni:
- Dialektika Materialisme
- Sejarah Materialisme
- Ekonomi Marxis
Tiga bagian ini yang biasanya menjadi bagian utama dari Marxisme.
Namun pada dasarnya, Sejarah Materialisme adalah pemahaman sejarah
dengan metode dialektika materialisme, dan Ekonomi Marxis adalah
pemahaman ekonomi dengan metode dialektika materialisme. Semua aspek
kehidupan bisa ditelaah dengan dialektika materialisme. Kebudayaan,
kesenian, ilmu sains, dll., semua ini bisa dipelajari dengan metode
dialektika materialisme, dan hanya dengan metode ini kita bisa memahami
bidang-bidang tersebut dengan sepenuh-penuhnya.
Jadi, pada dasarnya, pokok dari Marxisme adalah dialektika
materialisme. Oleh karenanya kita akan memulai dari pemahaman dialektika
materialisme. Tanpa pemahaman dialektika materialisme, maka kita tidak
akan bisa memahami Sejarah Materialisme dan Ekonomi Marxis.
Materialisme
Ketika kita berbicara mengenai Materialisme, kita berbicara mengenai
filsafat Materialisme yang berseberangan dengan filsafat Idealisme. Di
sini kita harus membedakan Materialisme dengan “materialisme” yang kita
kenal dalam perbincangan sehari-hari. Biasanya kalau kita mendengar kata
materialisme, kita lantas berpikir ini berarti hanya memikirkan
kesenangan duniawi, hanya suka berpesta-pora, mementingkan uang di atas
segala-galanya. Dan ketika kita mendengar kata idealisme, kita lalu
berpikir ini berarti orang yang punya harapan, yang bersahaja dan punya
mimpi dan cita-cita mulia. Pengertian sehari-hari ini bukanlah
pengertian yang sesungguhnya untuk Materialisme dan Idealisme dalam
artian filsafat.
Sepanjang sejarah filsafat, ada dua kubu utama, yakni kubu Idealis
dan kubu Materialis. Filsuf-filsuf awal Yunani, Plato dan Hegel, adalah
kaum Idealis. Mereka melihat dunia sebagai refleksi dari ide, pemikiran,
atau jiwa seorang manusia atau seorang makhluk maha kuasa. Bagi kaum
Idealis, benda-benda materi datang dari pemikiran. Sebaliknya, kaum
Materialis melihat bahwa benda-benda materi adalah dasar dari segalanya,
bahwa pemikiran, ide, gagasan, semua lahir dari materi yang ada di
dunia nyata.
Ini bisa kita lihat dengan mudah. Sistem angka kita yang mengambil
bilangan sepuluh, ini adalah karena kita manusia memiliki sepuluh jari
sehingga kita pun menghitung sampai sepuluh. Bilamana manusia punya dua
belas jari, tidak akan aneh kalau sistem angka kita maka akan mengambil
bilangan duabelas dan bukan sepuluh. Jadi konsep dasar matematika
bukanlah sesuatu yang datang dari langit, bukanlah sesuatu yang tidak
ada dasar materinya. Sedangkan kaum Idealis akan berpikir bahwa bilangan
sepuluh ini adalah konsep abadi yang akan selalu ada dengan atau tanpa
kehadiran manusia berjari sepuluh.
Bahkan alam sadar kita adalah produk dari materi, yakni otak kita
sebagai salah satu organ tubuh kita. Bila mana otak kita rusak karena
cedera, maka kita pun akan kehilangan kesadaran kita. Otak kita tidak
lain adalah kumpulan sel-sel yang bekerja dengan zat-zat kimia. Maka
tidak heran kalau kita menenggak banyak alkohol maka kesadaran kita pun
akan terpengaruh, atau kalau kita mengkonsumsi obat-obat terlarang, atau
minum obat sakit kepala Paramex yang bisa menghilangkan rasa sakit
kepala kita. Kaum idealis sebaliknya mengatakan bahwa kesadaran manusia
ini tidak ada sangkut pautnya dengan otak, bahwa kesadaran manusia itu
abadi. Ilmu sains telah menihilkan Idealisme dan sekarang kita tahu
kalau otak adalah dasar materi dari kesadaran kita.
Kesadaran kita, cara berpikir kita, tabiat-tabiat kita, semua ini
adalah akibat dari interaksi kita dengan lingkungan sekeliling kita,
yakni dunia materi yang ada di sekitar kita. Petani cara berpikirnya
berbeda dengan buruh karena mereka dalam kesehari-hariannya kerja
bercocok tanam di sawah, sedangkan buruh harus bekerja di pabrik dengan
ratusan buruh lain dan mesin-mesin yang menderu. Oleh karenanya pun
metode perjuangan buruh berbeda dengan kaum tani, dan juga kesadarannya.
Buruh karena terlempar masuk ke pabrik dalam jumlah ratusan dan ribuan
punya kesadaran solidaritas dan berorganisasi yang pada umumnya lebih
tinggi daripada kaum tani. Buruh membentuk serikat-serikat buruh, yang
dalam sejarah secara umum merupakan lokomotif sejarah. Sedangkan petani,
karena biasanya bekerja terpisah-pisah dalam ladang mereka
masing-masing, solidaritas dan kesadaran berorganisasi mereka umumnya
lebih rendah. Kita mengatakan “secara umum” karena ini tidak menihilkan
bahwa ada juga petani-petani yang berorganisasi membentuk serikat tani.
Misalnya dulu di Indonesia ada Barisan Tani Indonesia (BTI) yang sangat
besar dan kuat, namun BTI pun eksis karena dorongan Partai Komunis
Indonesia, yakni Partai yang secara historis berbasiskan pada kelas
buruh Indonesia. Selain itu sejarah juga membuktikan bahwa pada umumnya
organisasi buruh lebih matang, kuat, dan konsisten daripada organisasi
tani.
Dari contoh-contoh ini, tampaknya mudah bagi kita untuk menerima
Materialisme sebagai filsafat kita. Namun, di dalam kehidupan
sehari-hari, ternyata Idealisme merasuk ke dalam cara berpikir kita
tanpa kita sadari. Kaum kapitalis pun giat menyebarkan Idealisme ke
dalam cara berpikir rakyat pekerja guna melanggengkan kekuasaan mereka.
Ditanamkan ke dalam pikiran kita bahwa ada yang namanya itu sifat alami
manusia, dan bahwa sifat alami manusia ini adalah serakah dan egois.
Oleh karena sifat alami manusia ini maka kapitalisme, sistem masyarakat
yang berdasarkan persaingan antara manusia karena keserakahan mereka,
adalah sistem yang paling alami dan akan eksis selama-lamanya sebagai
sistem yang paling sempurna dan paling akhir. Ini adalah pembenaran yang
sering kita dengar dari para pembela sistem kapitalisme.
Kaum Materialis berpikir berbeda, bahwa sifat serakah dan egois
manusia ini bukanlah sifat alami, bukanlah sebuah ide atau gagasan di
dalam pikiran manusia yang jatuh dari langit. Materialisme mengajarkan
bahwa sifat manusia itu adalah hasil dari interaksinya dengan dunia
materi di luarnya, bahwa kesadaran manusia ditentukan oleh keberadaan
sosialnya. Maka dari itu, sifat serakah dan egois manusia ini
sesungguhnya adalah hasil dari sistem produksi dan sosial yang ada
sekarang ini. Maka memang tidak heran kalau kita melihat keserakahan dan
keegoisan di masyarakat kita, karena sistem produksi kita yang membuat,
atau lebih tepatnya memaksa, manusia menjadi seperti itu. Keserakahan
dan keegoisan manusia yang kita saksikan di jaman sekarang ini tidak
ditemukan di dalam masyarakat jaman dahulu, ketika sistem produksi dan
sosialnya bukanlah kapitalisme. Dari sudut pandang ini, maka bila kita
ubah sistem produksi dan sosial masyarakat, maka akan berubah juga
tabiat dasar manusia. Tentunya perubahan ini tidak akan terjadi dalam
sekejap, namun penggulingan kapitalisme dan pembangunan sosialisme akan
menyediakan pondasi untuk pembangunan karakter manusia yang baru, yang
tidak berdasarkan keserakahan, tetapi berdasarkan semangat gotong royong
yang sejati-jatinya.
Dari sini kita bisa lihat bagaimana filsafat idealisme ini pada
dasarnya kontra-revolusioner karena filsafat ini membenarkan kapitalisme
sebagai sistem yang alami dan kekal. Sedangkan materialisme adalah
filsafat yang revolusioner, karena ia mengajarkan kita bahwa kapitalisme
bukanlah sistem yang lahir dari apa-yang-disebut tabiat alami manusia,
tetapi justru sebaliknya bahwa tabiat manusia itu adalah hasil dari
sistem sosial yang ada.
Akan tetapi materialisme tanpa dialektika adalah materialisme yang
formalis dan kaku. Tanpa dialektika, materialisme tidaklah lengkap untuk
bisa menjelaskan dunia.
Dialektika
Dialektika adalah satu cara pandang atas sesuatu dalam keadaan
geraknya dan bukan dalam keadaan diamnya. Proposisi dasar dialektika
adalah bahwa segala hal selalu ada dalam proses perubahan yang dinamik,
yang seringkali prosesnya tidak terlihat dan tidak bergerak dalam garis
lurus.
Untuk memudahkan kita memahami dialektika, ada tiga hukum utama gerak dialektika yang bisa kita rangkum:
1. Perubahan kuantitas menjadi kualitas
2. Kutub berlawanan yang saling merasuki
3. Negasi dari negasi
Ada dua jenis perubahan, yakni perubahan kuantitas dan perubahan
kualitas. Perubahan kuantitas adalah satu jenis perubahan yang hanya
menyentuh besaran dari sesuatu hal atau benda. Sedangkan perubahan
kualitas adalah sebuah perubahan dari satu sifat ke sifat yang lain. Di
alam maupun ilmu sosial, kita dapat menyaksikan dua jenis perubahan ini.
Hukum dialektika mengajarkan bahwa pada saat tertentu perubahan
kuantitas bisa beralih menjadi perubahan kualitas, bahwa perubahan tidak
selalu berada dalam garis lurus tetapi pada momen tertentu mengalami
loncatan.
Banyak sekali contoh di alam yang menggambarkan hukum dialektika ini,
misalnya mendidihnya air. Ketika kita menaikkan suhu air satu derajat
dari 20 derajat ke 21 derajat, tidak ada perubahan kualitas. Air masih
berbentuk air, yang terjadi hanya perubahan kuantitas. Kita bisa terus
naikkan suhu air ini satu derajat per satu derajat, hingga suhu air
mencapai 99 derajat, dan air pun masih berbentuk air. Tetapi ketika kita
naikkan satu derajat lagi, dari 99 derajat ke 100 derajat, maka sesuatu
loncatan terjadi, sebuah perubahan kualitas terjadi. Air mendidih dan
berubah menjadi uap. Jadi perubahan satu derajat (perubahan kuantitas)
mengakibatkan mendidihnya air menjadi uap (perubahan kuantitas). Hal
yang sama juga benar untuk perubahan dari air menjadi es.
Tetapi hukum dialektika ini tidak terbatas pada alam saja, tetapi
juga pada hubungan sosial manusia. Revolusi adalah perubahan kualitas.
Masyarakat tidak berubah dengan perlahan-lahan atau gradual, tetapi
bergerak dengan loncatan-loncatan. Revolusi Prancis 1789, Komune Paris
1871, Revolusi Inggris, Revolusi Rusia, Revolusi Tiongkok, dll. Semua
ini adalah perubahan kualitas di dalam gerak masyarakat. Tetapi tidak
hanya revolusi saja yang merupakan perubahan kualitas, konter-revolusi
pun adalah loncatan, sayangnya loncatan ke belakang. G30S dan periode
pembantaian 1965-1966 dapat dilihat sebagai sebuah perubahah kualitas di
dalam gerakan buruh Indonesia, yakni perubahan dari periode
revolusioner ke periode reaksi, sebuah loncatan ke belakang.
Ledakan gerakan Reformasi 1998 pun adalah satu contoh perubahan
kualitas. Setelah 32 tahun di bawah cengkaraman rejim Soeharto, dimana
tampak di permukaan tidak ada perubahan kesadaran sama sekali kendati
kesengsaraan rakyat yang semakin parah, akhirnya ini semua berubah pada
tahun 1997-1998. Rejim kediktaturan Soeharto sudah tidak bisa lagi
ditahan, dan rakyat pun hilang rasa takutnya dan terjadi loncadtan
kesadaran.
Revolusi Tunisia juga memberikan kita satu contoh lagi akan peralihan
dari perubahan kuantitas menjadi kualitas. Banyak orang pintar yang
mengutarakan bahwa Revolusi Tunisia ini disebabkan oleh pembakaran diri
Mohamed Bouazizi, seorang penjual buah. Mohamed Bouazizi sering ditindas
oleh polisi dan akhirnya dia tidak tahan lagi akan penindasan ini
sehingga mengakhiri nyawanya dengan membakar diri. Pembakaran dirinya
lalu menyulut Revolusi Tunisia yang berhasil menumbangkan diktatur Ben
Ali. Namun dia bukan satu-satunya pedagang pasar yang sering ditindas
oleh aparat keamanan, dan dia bukanlah yang pertama yang bunuh diri
karena tidak tahan kesengsaraan hidup. Di Indonesia sendiri, kita sering
baca berita mengenai orang-orang miskin yang bunuh diri karena
kemiskinan. Jadi pembakaran diri Bouazizi bisa dilihat sebagai sebuah
perubahan kuantitas yang lalu berubah menjadi perubahan kualitas. Dia
adalah satu tetes air yang membuat bendungan kemarahan rakyat meluap.
Seperti kata Engels, “necessity expresses itself through accident”
(keniscayaan mengekspr esikan dirinya lewat kecelakaan/kebetulan).
Situasi masyarakat Tunisia memang sudah sangat panas, dan hanya butuh
“satu derajat celcius” saja untuk membuatnya mendidih, dan satu derajat
ini diwakili oleh pembakaran diri Bouazizi.
Hukum dialektika kedua adalah kutub berlawanan yang saling merasuki.
Hukum ini mengajarkan kepada kita bahwa kontradiksilah yang menggerakkan
dunia. “Akal sehat” mencoba membuktikan bahwa semua kekuatan yang
saling bertentangan adalah eksklusif satu sama lain, bahwa hitam adalah
hitam, dan putih adalah putih. “Akal sehat” mencoba menyangkal
kontradiksi sebagai bagian dari proses. Dialektika menjelaskan bahwa
tanpa kontradiksi maka tidak ada gerak, tidak ada proses.
Hidup dan mati adalah dua hal yang saling bertentangan, tetapi mereka
adalah dua proses yang saling merasuki. Kita hidup, jantung kita
berdetak, memompa darah ke seluruh tubuh kita untuk memasok oksigen dan
nutrisi ke setiap sel tubuh kita supaya mereka bisa hidup dan tumbuh.
Tetapi pada saat yang sama, puluhan ribuan sel di dalam tubuh kita mati
setiap detiknya, hanya untuk digantikan oleh yang baru. Proses hidup dan
mati ini saling merasuki di dalam tubuh kita sampai kita menghela napas
terakhir kita. Proses ini yang menggerakkan kita.
Begitu pula masyarakat kita, yang bergerak karena kontradiksi.
Revolusi sosial terjadi ketika tingkat produksi manusia sudah
bertentangan dengan sistem sosial yang ada. Inilah basis dari setiap
revolusi di dalam sejarah umat manusia, dari jaman komunisme primitif,
ke jaman perbudakan, ke jaman feodalisme, dan sekarang jaman
kapitalisme. Kontradiksi antara tingkat produksi dan sistem sosial terus
saling berbenturan, saling merasuki, dan menjadi motor penggerak
sejarah. Di jaman kapitalisme, kontradiksinya adalah antara sistem
produksi yang bersifat sosial dengan nilai surplus yang diapropriasi
secara individual. Tidak ada satupun buruh yang bisa mengatakan bahwa
dia sendirilah yang memproduksi sebuah komputer misalnya. Ribuan, bahkan
ratusan ribu, buruh dari berbagai industri bekerja bersama memproduksi
ribuan komponen terpisah yang lalu dirakit menjadi sebuah komputer. Oleh
karenanya sistem produksi kapitalisme adalah sistem produksi sosial.
Namun nilai surplus, atau produk tersebut, tidak menjadi milik sosial,
dan hanya menjadi milik pribadi, yakni segelintir pemilik alat produksi
tersebut. Kontradiksi inilah yang lalu membawa perjuangan kelas --
kadang terbuka kadang tertutup -- antara buruh dan kapitalis, yang terus
menerus mendorong masyarakat kita.
Hukum dialektika ketiga adalah negasi dari negasi. Hukum ini
bersinggungan dengan watak perkembangan melalui serangkaian kontradiksi
yang terus menerus menegasi dirinya. Namun penegasian ini bukanlah
penyangkalan penuh bentuk yang sebelumnya, tetapi penegasian dimana
bentuk yang sebelumnya dilampaui dan dipertahankan pada saat yang sama.
Manifestasi nyata hukum ini dapat kita lihat di sekitar kita.
Contohnya adalah perkembangan sebuah tanaman. Sebuah benih yang jatuh di
tanah, setelah mendapatkan air dan cahaya matahari, tumbuh menjadi
kecambah. Lalu kecambah ini terus tumbuh menjadi dewasa, dan bila
waktunya tiba maka kuncup-kuncup bunga pun muncul. Kuncup bunga ini
kemudian menjadi sebuah bunga, dan bunga ini lalu menjadi buah yang
mengandung biji-biji benih baru. Kecambah menegasi benih biji, yang lalu
dinegasi oleh kuncup bunga. Kuncup ini lalu dinegasi oleh bunga yang
mekar sekar, yang lalu sendirinya dinegasi lagi oleh buah dengan
biji-biji di dalamnya. Setiap tahapan ini berbeda secara kualitas,
saling menegasi tetapi masih mengandung esensi dari tahapan sebelumnya.
Setiap tahapan pertumbuhan tanaman ini terus bergerak menjadi satu
kesatuan organik.
Benih-benih baru tersebut akan mengulangi siklus yang sama lagi.
Namun benih-benih baru ini tidak akan sama dengan benih yang lama,
karena dalam proses pembentukannya ia telah menyerap berbagai
elemen-elemen dari luar. Dalam bahasa sainsnya, genetika benih baru ini
telah mengalami perubahan melalui mutasi genetika yang disebabkan oleh
berbagai faktor dan proses seperti sinar ultraviolet matahari, zat-zat
kimia, dsbnya., dan juga melalui proses polinasi antar tanaman. Tumbuhan
ini mengalami evolusi dan terus berubah. Jadi siklus pertumbuhan
tanaman bukanlah sebuah lingkaran tertutup yang terus berputar-putar dan
mengulang-ulang, tetapi sebuah siklus yang berbentuk spiral, yang bisa
terus naik -- dan juga bisa turun --, yang kalau dilihat dari satu sudut
saja tampak seperti berputar-putar di satu tempat, tetapi kalau dilihat
secara keseluruhan perputaran ini tidak diam di tempat tetapi bergerak
naik secara spiral.
Sejarah pun demikian. Para sejarahwan borjuis terus mencoba
membuktikan dan menanamkan di dalam pikiran rakyat kalau sejarah ini
hanyalah sebuah pengulangan yang tidak berarti, yang terus bergerak
dalam lingkaran tanpa-akhir. Sementara dialektika melihat sejarah
sebagai sebuah perkembangan yang di permukaan mungkin tampak seperti
pengulangan tak-berarti namun pada kenyataannya ia bergerak terus ke
bentuk yang lebih tinggi karena diperkaya oleh pengalaman-pengalaman
sebelumnya.
Begitu juga dengan perkembangan gagasan dan sains di dalam
masyarakat. Para alkemis zaman pertengahan memimpikan sebuah “batu
filsuf” yang mereka percaya bisa mengubah timah menjadi emas. Di dalam
pencarian utopis mereka ini, para alkemis ini menemukan berbagai
pengetahuan kimia dan teknik-teknik kimia, yang lalu menjadi pijakan
awal untuk ilmu kimia moderen. Dengan perkembangan ilmu sains -- yang
berbarengan dengan perkembangan kapitalisme dan industri -- ilmu kimia
pun tidak lagi digunakan untuk mencari “batu filsuf” dan orang-orang
yang masih memimpikan transmutasi timah menjadi emas dianggap gila.
Menjadi sebuah hukum bahwa sebuah elemen tidak akan bisa diubah menjadi
elemen yang lain. Akan tetapi di dalam perkembangannya, ditemukan bahwa
ternyata mungkin untuk mengubah satu elemen menjadi elemen yang lain,
dan bahkan secara praktek ini sudah terbukti. Jadi setelah berabad-abad,
alkemi menjadi sebuah kenyataan. Tentunya secara ekonomi biaya untuk
mengubah timah menjadi emas terlampau besar sehingga membuatnya menjadi
tidak praktis. Di masa depan, bila tingkat teknologi dan produksi sudah
mencapai ketinggian yang tidak pernah terbayangkan oleh kita, tidak akan
mengejutkan kalau kita akan bisa mengubah timah menjadi emas dengan
jentikan jari saja. Dengan demikian perkembangan ilmu kimia telah
mengalami satu putaran: dari transmutasi elemen (mimpi), ke
non-transmutasi elemen, dan kembali lagi ke transmutasi elemen
(kenyataan).
Yang benar di alam juga benar di masyarakat, karena pada analisa
terakhir gagasan-gagasan manusia mendapatkan dasar-dasarnya dari dunia
materi. Pergerakan gagasan manusia, pergerakan masyarakat, semua
mengikuti ilmu alam sebagai basis dasarnya. Para filsuf bayaran kaum
borjuis ingin memisahkan apa yang benar di alam dengan apa yang benar di
masyarakat, karena hukum alam adalah hukum revolusioner. Ia adalah
hukum perubahan yang terus bergerak, bukan hanya dalam garis lurus
tetapi juga dalam lompatan-lompatan. Setiap kelas penguasa tidak
menginginkan perubahan karena mereka ingin terus hidup di dalam surga
mereka yang abadi. Keabadian adalah filsafatnya kelas borjuasi. Dengan
filsafatnya sendiri, yakni filsafat Marxisme, sebuah filsafat perubahan,
kaum buruh akan mengetuk pintu surga abadi kaum borjuis, bila perlu
mendobraknya, dan membersihkan surga bumi ini dari parasit-parasit
borjuasi itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Thank's a lot