Seni merupakan ekspresi kreatifitas manusia dengan sifat relative. Kemudian seni menjelma menjadi relasi dalam kompleksitas budaya di masyarakat dalam wujud adat dan kebiasaan. Habitus seni sebagai warisan inilah kemudian muncul ambiguitas seni antara pemberhalaan sekaligus re-kreativitas. Bagi individu yang kreatif seni bisa jadi sesuatu yang berguna. Sebaliknya bagi individu lain, seni bisa jadi sesuatu yang menyesatkan.
Ruang seni kontemporer adalah ruang seni pembebasan. Celah-celah untuk mengeksploitasi diri sangat leluasa dibuka kepada seniman. Mereka bisa bicara, bernyanyi, berkumpul sekaligus berkarya. Hampir tidak ada paksaan, represi dan kekerasan dari Negara seperti pada Orde Baru.
Sudah seharusnya seni kontemporer dinyatakan sebagai seni yang lebih materialis dan progresif. Seniman bisa belajar dari siapapun, dimanapun dan kapanpun mereka mau. Jika di masa lalu mereka dihambat, sewajarnya kini publik menikmati seni yang notabene berbeda dengan masa lalu (Orde Baru). Jika seni Orde Baru ditandai dengan karya-karya cengeng, maka kini saatnya publik diberikan suguhan karya progresif transformatif.
Setelah arus politik yang gagal mengkontrol ekspresi seni yang bermanfaat riil. Kini, lembaga control seni hadir dalam bentuk pasar (ekonomi). Seorang seniman akan mengalami kesulitan mengekspresikan diri tanpa bantuan modal. Konsekuesi logisnya yaitu, hidup-matinya seni sangat tergantung pada seberapa besar kemampuan seni di serap pasar.
Sepertinya pemahaman seni sebagai sebuah hasil kreatifitas agen dalam era modern telah megalami kemandegan. Seni kontemporer merupakan seni yang mengalami stagnansi ke arah diam dan menikmati. Pasalnya, pasar sebagai mekanisme struktur besar –tentu saja dengan bantuan modal, telah menyematkan hegemoni dan dominasi dalam tayangan-tayangan televisi.
Obyek seni kontemporer adalah massa dan masyarakat. Tidak ada lagi universalisme seni, yang ada tinggal potongan-potongan seni maestro yang dirangkai dalam kerangka kepuasan konsumen. Mana yang enak dan disukai pasti laku. Efeknya kita telah tertinggal dalam keadaan pasif ditengah dunia yang semakin cepat berubah.
Kerisauan kita tidak beralasan jika melihat fenomena budaya pop semata sebagai kesalahan anak muda. Kebebasan yang berujung pada demoralisasi akhlak, pelacuran intelektual semua dirangkai indah dalam perjudian pasar. Di sisi lain, kita tak boleh mengeluh saja tanpa argumentasi yang mendasar. Mencoba mencari alternative pemecahan atas kenyataan sambil mengurai kekusutan dengan tindakan-tindakan nyata.
Pasar kerapkali mengalami tubrukan (clash) ketika bertemu dengan situasi ideal. Kita menginginkan sebuah perubahan situasi dari kondisi seni cinta yang menjadi mainstream budaya pop dengan seni realis yang dengan jelas mengangkat realitas kaum marginal. Seni realis atau apapun namanya lebih actual menjadi ideology kaum marginal yang tertindas, sayang sekali realitas kondisi berbeda dialami basis, seni cengeng-sebutan untuk musik melow ternyata secara tidak sadar justru mengisi otak sebagain terbesar generasi bangsa ini.
Ada yang salah tatakala menyaksikan bagaimana konser-konser music luar negeri membludak dipenuhi penonton. Sementara wayang orang dan wayang golek menjadi tontonan yang pantas dikonsumsi rakyat miskin. Inkonsistensi logis ini harus dicari akal sebabnya, jangan sampai kemudian lebih banyak kontradiksi internal dialami bangsa ini.
Masalah lain terkait pragmatism dalam berkesenian yang bertabrakan dengan totalitas berkesenian. Jarang sekali seniman yang mampu hidup dari idealisme. Pramoedya Ananta Toer yang terpaksa di penjara demi idealismenya merupakan sosok terpuji yang menjadi contoh betapa totalitas seniman muda kita mengarah ke pragmatisme. Tidak ada seniman yang mau miskin dan prihatin hidupnya. Rasionalisme dangkal para seniman tampak dari membuminya lagu cinta dengan aroma mello.
Arif Burhan
Guru Sekolah Alternatif Qoryah Thayyibah
Biodata
Nama : Arif Burhan
Alamat : Ketapang RT 02 RW 01, Kecamatan Susukan, Kabupaten Semarang
Provinsi Jawa Tengah 50777
No.
Share
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Thank's a lot